07/07/14

Puisi?

Teruntuk kamu...
Sudah lama sekali rasanya aku tidak bermesraan denganmu
Berbincang, bahkan memandang wajahmu saja tidak.
Apa kabar kamu?
Ada yang beda darimu,
Rautmu tidak seceria dulu.
Pergi kemana senyummu yang selalu bisa meneduhkan teriknya matahari di bulan Januari?

Jika aku menuliskan sebuah puisi untukmu, akankah kau baca?
Bisa sampai ke tanganmu saja aku sudah bersyukur.
Kepada siapa lagi aku harus mengadu rasa rindu?
Kalau bukan kepada tubuhmu yang selalu bisa membuat jari-jari tanganku menari bebas di atasnya,
Menjelajahi seluruh bagian tubuhmu, tidak ada yang terlewat
Bahkan bagian yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya.

Aku menuliskanmu puisi.
Sebuah frasa yang mengisyaratkan rindu awan yang menjadikannya tiada karena hujan.
Yang merubah kayu menjadi  abu karena api.
Kepada siang yang sebenarnya merindukan bulan,
Dan matahari yang bertengkar dengan siang atas siapa yang menciptakan bayang-bayang.
Aku menuliskanmu ini,
Di atas barisan huruf yang tersebar di sekujur tubuh indahmu.
Menggeliat ketika kusentuh.
Aku memilih huruf-huruf itu dengan cekatan.

Hanya ini yang bisa aku tulis.
Aku rindu.