01/02/14

Jadi, Yang Mana?

Selamat pagi, wahai kamu perempuanku. Bagaimana kabarmu?

Semoga “baik..” adalah jawabanmu selalu.

Aku ingin menulis apa, ya? Aku rindu padamu? Ya, kurasa.

Tapi, apakah benar aku hanya rindu padamu? Bisa saja aku marah padamu, kan?

Ya, aku marah padamu. Kenapa? Aku juga tidak tahu.

Mungkin aku hanya iri. Padamu. Pada duniamu. Padanya. Pada apa yang kamu punya sekarang.

Tapi, apakah benar aku iri terhadap semua itu? Bisa saja aku mempunyai dunia yang sama sekali tidak kamu miliki sekarang ini.

Ya, aku punya semua yang tidak kamu miliki. Aku senang. Sangat senang.

Tapi, dibanding dengan kesenanganmu? Kurasa…masih jauh lebih menyenangkan dunianya.

Ya, dunianya yang tidak pernah mengenal kata “Kita”. Tunggu, apakah hanya dia yang tidak mengenal kata “Kita”? Kamu? Dan aku? Apakah mengenal kata “Kita”?

Ya, bisa saja aku mengenalnya. Atau bisa saja kamu mengenalnya. Atau mungkin saja malah dia yang tidak mengenal kata “Kita”. Siapa yang tahu?

Tak akan ada seorang pun di dunia ini yang benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, kan? Kecuali Dia? Ya, kamu tahu siapa Dia.

Kita mengenali-Nya..oh, maaf, kamu dan aku mengenal-Nya sebagai Dia yang sama. Dan mungkin malah kamu yang lebih mengenal-Nya.

Tunggu, kenapa malah Dia yang aku tulis? Kenapa dengan aku ini sebenarnya? Ada apa denganku?

Aku tidak tahu. Apa kamu tahu? Mungkin tidak. Mungkin juga iya. Atau bisa juga kamu pura-pura tidak tahu. Atau bisa juga kamu memang tidak tahu tapi pura-pura tahu. Yang mana?

Kamu tahu? Kamu sekarang dengannya? Ya, dengannya.

Apa? Bagaimana denganku? Yah, kau tahu aku sudah bersamanya. Apa? Apakah aku senang? Ya, aku senang. Apa? Apakah aku sesenang saat bersamamu? Oh, yah haruskah kita membahas ini? Aku senang bersamanya. Hey, apakah kamu mulai menyesali keputusanmu dulu? Ya, kamu pasti menyesal! Baru merasakan itu sekarang, huh?

Tunggu, kenapa jadi terkesan aku memojokkanmu? Tidak, aku tidak bermaksud seperti itu. Mungkin iya. Atau bisa juga aku pura-pura memojokkanmu. Atau bisa juga aku benar-benar  memojokkanmu tapi aku pura-pura tidak memojokkanmu. Yang mana?

Kamu tahu? Pada akhirnya kita akan membuang air liur yang selama ini telah sangat berjasa membantu kita mencerna makanan-makanan enak yang telah kita makan. Oh, maafkan aku, bukan kita. Tapi aku dan kamu. Maafkan aku.

Dan suatu saat pasti salah satu dari aku dan kamu merindukan apa yang telah aku dan kamu buang itu. Entah kamu lebih dulu atau aku, pasti suatu saat akan mengambilnya kembali dan menjilatnya kembali.
Kenapa? Jangan tanyakan itu padaku.

Oh iya, mungkin itu terasa lebih manis dari apa yang aku dan kamu sering dengar sebagai janji manis? Atau bisa juga memang janji itu manis dan kamu dan aku hanya berpura-pura menganggap air liur itu lebih manis. Atau bisa juga memang air liur itu manis tetapi aku dan kamu masih berpura-pura menganggap bahwa janji itu lebih manis. Yang mana?

Sekarang, bagaimana jika aku dan kamu pernah melebur dan mengenal “Kita”?

Bagaimana jika aku dan kamu tidak akan pernah menjilat air liur yang telah aku dan kamu buang?

Bagaimana jika kesempatan bisa datang kapan saja, semaunya, sebebas-bebasnya, dan tidak ada istilah “kesempatan tidak datang dua kali”?

Bagaimana jika warna pelangi tidak lagi Me-Ji-Ku-Hi-Bi-Ni-U melainkan warna yang ada di matamu?

Bagaimana jika matahari akan muncul pada malam hari dan bulan akan bersinar dengan indah pada siang hari?

Bagaimana jika mimpi memang dibuat hanya untuk terlupakan ketika aku dan kamu bangun tidur?

Bagaimana jika sekarang ini aku sedang menuliskan bagaimana aku dan kamu seharusnya menjadi?

Bagaimana jika…

Terlalu banyak “Bagaimana jika…” yang akan tertulis di sini jika saja otakku tidak memaksa mataku untuk memejam.

Aku tidak akan menuliskan ini semua jika saja mataku diminta oleh otakku untuk memejamkannya sejak tadi. Tapi nyatanya? Kau lihat? Aku menuliskannya. Menulis ini.

Mungkin saja mataku tidak benar-benar mau memejam karena ingin aku menyelesaikan tulisan ini. Atau bisa juga mataku memang ingin memejam tapi dia berpura-pura tidak ingin. Atau bisa juga mataku tidak benar-benar mau memejam bukan karena ingin melihat aku menyelesaikan tulisan ini dan dia hanya berpura-pura melihatnya. Yang mana?

Kau tahu. Aku tahu. Mungkin juga dia atau Dia tahu. Mungkin juga tidak.


Jadi, yang mana?

3 komentar:

  1. sounds familiar.... :))

    BalasHapus
  2. i mean, sounds describing someone's life ;)

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus