02/11/13

Sudah, Nikmati Saja Aku.

Aku adalah bulan yang menerangi malam. Tetapi, aku heran kenapa malam betah selalu diterangi oleh bulan? Apakah malam mencintai bulan? Atau sebaliknya?  Entahlah, yang aku tahu matahari sangat mencintai siang. Buktinya, dia memberikan semua sinar yang dia punya untuk menyinari siang. Walaupun begitu, banyak orang yang mengeluhkan sinarnya di siang hari. Salah satunya aku, aku tidak benci matahari pun begitu dengan siang. Aku hanya tidak suka jika matahari terlalu berlebihan memberikan sinarnya pada siang. Apakah dia tidak pernah memikirkan kalau nantinya dia akan kehabisan sinarnya? Lagipula, sinarnya panas.  Apakah ada orang yang tahan dengan sinarnya di siang hari saat matahari sedang panas-panasnya? Mungkin ada, tetapi tidak banyak. Itu pun mungkin karena mereka terpakasa harus berhadapan dengan sinarnya. Tetapi, sinar matahari tidak selalu menjengkelkan. Pada saat senja misalnya, sinarnya  banyak dicari orang.  Bukan, maaf, tetapi dirinya. Dia rela dirinya dinikmati begitu banyak orang dan dia hanya diam menyuguhkan sinar yang indah dan cantik. Apakah benar Tuhan yang mengizinkan matahari berbuat seperti itu? Jika iya, maka Tuhan layak untuk diberi pujian. Akan tetapi, apakah kalian yang menikmati tubuh matahari itu mempercayai adanya Tuhan? Apakah kalian semua yakin pada Tuhan? Aku, sih, tidak tahu. Itu masalah kalian jika kalian tidak percaya atau tidak yakin kepada-Nya, yang jelas kita ini hanyalah ibarat boneka bagi-Nya. Dia menciptakan kita di dunia ini dan memberi perintah supaya kita beribadah kepadanya, padahal Dia sudah tahu apa yang akan kita lakukan di dunia ini. Dia sudah tahu kalau aku akan membicarakan-Nya di tulisan ini, Dia juga sudah tahu kalau kalian akan membaca tulisan ini dan mungkin kalian langsung berpikir kalau Dia sedang ada di samping kalian mengawasi kalian. Kenapa? Kalian takut? Tidak usah takut hanya karena Tuhan sudah tahu semua apa yang akan kita perbuat selama mulai hidup sampai mati nanti. Anggap saja masa hidup kita ini adalah masa ujian. Lama? Memang. Kalian mau protes? Loh, kenapa? Bukannya kalian belum yakin akan adanya Tuhan? Sudahlah, terima saja. Kalau memang mau protes, apa yang akan kalian lakukan? Berdoa kepada-Nya saja kalian tidak pernah malah sekarang mau protes? Kalian itu lucu, mau enaknya tetapi tidak mau susahnya. Iya memang tidak cuma kalian, aku juga begitu. Aku hanya menuruti dan menjalankan perintahnya saja. Aku diperintahkan muncul pada malam hari, aku menyanggupi. Aku diciptakan tidak mempunyai sinar sendiri, aku terima. Aku diciptakan tidak sebesar matahari yang banyak dikagumi oleh kalian, aku tidak protes. Akan tetapi, kadang aku merasa bosan dan ingin rasanya bertukar tempat dengan matahari, apalagi dengan kalian para manusia. Kalian harusnya bersyukur bisa menikmati sinar matahari di pagi, siang, dan sore hari gratis tanpa diminta bayaran oleh Tuhan kalian. Bukannya malah protes dan menyepelekan-Nya. Pantas saja kalau Tuhan seringkali membuat kalian merasakan bencana, kehilangan anggota keluarga, orang yang kalian sayang, dan bahkan kehilangan sebagian anggota tubuh kalian. Kalian belum menyadari juga kalau Dia berbuat seperti itu karena Dia marah atas apa yang kalian lakukan di dunia? Bodoh sekali kalian ini ternyata! Tetapi, ya sudahlah tidak usah disesalkan. Sekarang biarkanlah mata kalian menikmati ribuan bintang yang mengelilingiku di alam semesta ini. Aku sedang penuh hari ini. Nikmatilah tubuhku selagi kalian bisa. Walaupun bukan sinarku sendiri aku sudah bersyukur aku bisa dilihat oleh kalian, ya tapi tetap saja yang jadi primadona si matahari itu. Ya sudah, nikmati saja aku dengan apa adanya aku. Jangan protes lagi, ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar