10/04/13

Senja Februari.

Di pantai itu, tanganmu menggenggam erat tanganku.
Menyaksikan pertunjukan Tuhan yang paling indah sore itu.
Senja itu begitu singkat.
Seakan laut sudah tak sabar ingin segera memeluk matahari.
Hingga tak tersisa lagi oranye di langit, tanganmu masih tetap erat di tanganku.
"Aku mau terus seperti ini", ujarmu.
Sesaat kemudian, bibir kita bertemu, saling melepas rindu, berpagut seakan tak ada yang mau 'termakan' duluan.
10 tahun sudah setelah kamu pergi meninggalkanku.
Kau tahu? Aku sudah terbiasa sendiri.
Aku sudah terbiasa tak memikirkanmu.
Aku sudah terbiasa memikmati pertunjukkan Tuhan setiap sore itu tanpamu.
Hanya ditemani sahabat baruku, kertas dan pensil.
Mereka pasangan hebat, darinya, terlahir berlembar-lembar puisi.
Bukan, bukan puisi untuk atau tentangmu.
Aku sudah terbiasa tidak mempedulikanmu.
Tapi ada yang beda sore itu.
Aku kembali mengingatmu.
Hari itu, tanggal 6, di bulan yang sama saat kamu bilang kamu mau terus seperti waktu itu.
Aku tertawa, menertawai diriku.
Entah kenapa aku percaya dan sangat mengharap kalau kita akan terus seperti itu.
Setahun setelah kamu mengucapkan itu, kamu meninggalkanku dengan alasan yang sampai saat ini masih belum bisa aku terima.
Kamu dijodohkan orang tuamu.
Tidak ada usaha darimu untuk menolaknya.
Aku sadar, cobaan terberat yang diberikan Tuhan adalah ini.
Tuhanmu dan Tuhanku punya rencana lain.
Dia tak menginginkan kita menjadi satu.
Dengan orang tuamu sebagai 'hakim' pemberi vonis bahwa kamu harus dijodohkan dengan lelaki pilihannya.
Setelah kejadian itu, tak pernah lagi aku dengar kabar darimu.
Kepada siapa aku harus marah?
Hidupku seketika berputar 180°.
Aku kalut, narkotika, minuman keras jadi 'teman' setiaku.
Kuliahku berantakan.
Tetapi kemudian aku sadar aku tak bisa terus seperti ini.
Sedikit demi sedikit kutinggalkan 'teman'ku itu.
Dua tahun kemudian aku lulus kuliah dari bidang sastra.
Aku membangunkan kembali mimpi masa kecilku; menjadi penulis.
Sampai suatu sore, di pantai yang selalu menjadi tempatku melihat pertunjukan matahari terbenam, ada sesosok wanita yang datang menghampiriku.
Wajah yang tak asing bagiku.
Dia langsung duduk di sampingku, tanpa ragu dia bilang, "masih sama, ya, senjanya? Gak berubah. Cantik." Kemudian senyuman itu menyadarkanku.
Wanita itu kamu.
"Mau apa kamu datang kemari?", tanyaku sinis.
"Loh, memang kenapa? Gak boleh? Ini tempat umum kan? Sejak kapan ini jadi tempatmu, Dimas Aditya Nugraha?", balasmu sambil tertawa.
"Kenapa kamu pergi semudah itu? Kenapa kamu sama sekali gak mencoba mempertahankan hubungan kita waktu itu? Kenapa kamu..", belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, dia sudah memelukku. Erat. Hangat. Masih sama seperti dulu. Aku ingat.
Kemudian kamu menangis, menuangkan semua air matamu.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku.
"Maafin aku, Dit, maafin aku..", sambil terisak kamun mencoba memberikan penjelasan padaku.
Sedikit penyesalan kenapa aku harus menanyakan hal itu tadi mulai muncul.
"Aku gak bisa ngelawan orang tuaku. Aku sayang sama mereka. Aku juga sayang sama kamu. Aku sayang sama kalian semua.", kamu melanjutkan.
"Aku gak tahu harus gimana saat itu, Dit. Aku takut aku akan jadi anak durhaka kalau saja waktu itu aku lebih memilihmu dan melawan keputusan orang tuaku. Aku gak mau, Dit.", tangismu mulai berhenti.
Kamu melepas pelukanmu, merapihkan rambutmu dan menghapus air matamu yang turun deras membasahi wajahmu.
"Aku cerai dua tahun setelah aku menikah dengan laki-laki brengsek pilihan orang tuaku itu.", kamu melanjutkan. Kali ini bukan kesedihan yang terpancar dari sorot mata dan nada bicaramu, melainkan amarah, rasa kesal. Kamu mulai bercerita bahwa mantan suamimu itu sering memperlakukanmu secara tak wajar. Dia sering memarahimu tanpa alasan yang jelas. Belakangan, kamu tahu kalau ternyata dia sering berjudi. Kamu tak sengaja memergokkinya. Tidak tahan akan perlakuan mantan suamimu itu, akhirnya kami mengambil langkah cerai. Kamu awalnya gak menyangka kalau lelaki pilihan orang tuamu ternyata laki-laki yang salah. Kamu menyesali keputusanmu. Menyesali keputusan orang tuamu. Tapi kamu sebagai anak tetap mengikuti apa kata orang tuamu. Kamu kembali menangis, menjadikan pundakku muara aliran air matamu. Aku memelukmu. Aku tak percaya wanita yang sangat aku cintai dulu (sampai sekarang) mengalami hal seperti ini. "Oiya, Dit, kamu dulu pernah bilang kan mau ngajak aku kenalan sama Tuhan kamu kalau akunya sudah siap?", tiba-tiba kamu bertanya. Ingatanku kembali ke 10 tahun lalu. Di pantai itu, setelah ciuman itu, aku memang memintamu atau mengajakmu 'berkenalan' dengan Tuhanku. Aku ingin mengikatmu dalam tali pernikahan. Tapi sayangnya orang tuamu tak setuju. Akhirnya mereka menjodohkanmu dengan lelaki yang sekarang malah membuatmu hancur. "Aku siap, Dit, aku sudah siap sekarang. Aku mau kenalan sama Tuhan kamu. Aku mau jadi teman hidup kamu." Senyummu begitu manis sore itu. Aku tak kuasa menolakmu.
Langit sudah gelap, matahari sudah kembali ke pelukan laut. Kamu pun kembali ke pelukanku. Aku sayang kamu, Karlina Eka Febriani.
Dua bulan setelah pertemuan kita di pantai itu, aku melamarmu, meminta ijin orang tuamu untung menjadikan anak perempuan satu-satunya untuk dijadikan pasangan hidupku selamanya. Orang tuamu menyutujuinya. Tak ada lagi penolakan kali ini. Aku lega. 6 Februari kamu pilih untuk dijadikan tanggal pernikahan kita. Sekaligus ulang tahunmu.
Pagi itu, di suatu masjid, di depan penghulu, orang tuaku, orang tuamu, serta kerabat-kerabat kita semua, aku mengucap kata ijab. "Saya terima nikah dan kawinnya Karlina Febrian Anggraini binti Adiraga Sulistyo dengan mas kawin uang sejumlah enam ribu dua ratus enam puluh dua rupiah dan alat shalat dibayar tunai.", kataku. Dengan itu, aku resmi menjadi suamimu. Aku mengecup keningmu. Tangis haru dan bahagia seketika hadir di seisi ruangan masjid.

06/04/13

Untitled

" You know what hurts the most? You’re happier with him than with me. It makes me think I’m not worth a penny."-- @aMrazing

04/04/13

Kamu. (Bagian III)

Kamu. Puncak dari segala rasa rindu. Alasan kenapa dia dan kekasihmu jatuh cinta.
Kamu. Alasan kenapa dia dengan sabar sampai sekarang tak mengungkapnya perasaan yang sebenarnya. Alasan kenapa dia rela menunggu sesuatu yang tak pasti. Dia sangat mengerti kamu. Dia sangat menyayangimu.
Kamu. Yang mulai bahagia bersama kekasihmu. Yang mulai percaya kekasihmu. Yang mulai menemui jalan keluar dari masa lalumu.
Kamu spesial. Untuknya, maupun untuk kekasihmu. Terutama untuknya. Kenapa? Karena dia masa lalumu. Dia sengaja tidak memperkenalkan dirinya sebagai masa lalumu. Karena dia tahu, dia tak ingin lagi membuatmu terus melihat kebelakang disaat kamu sudah bersama kekasimu sskarang. Tapi bagian ini bukan tentang dia, ini tetang kamu.
Kamu. Sudah hampir setengah tahum kamu menjalani hari-hari bersama kekasihmu. Walaupun sempat ada ganjalan disana-sini, kamu mau memberikan kesempatan pada kekasihmu. Kamu memang begitu. Tak mudah untuk menyerah dalam menjalani suatu hubungan. Kecuali memang jika kamu pikir sudah tidak ada lagi alasan kenapa kamu harus memperthankan hubungan itu. Kamu sudah banyak merencanakan hal-hal menarik kedepan bersama kekasihmu. Ya..sama seperti dulu, hal itu juga kamu lakukan dengan kekasihmu sekarang. Sebenarnya, kamu pun tidak mau terlalu merencanakan sesuatu untuk masa depan. Karena kamu masih takut jika saja apa yang kamu sudah rencanakan itu kembali rusak karena hubunganmu denga kekasihmu sekarang berakhir. Tapi, kamu mencoba, mencoba untuk bangkit dari masa lalu.
"From this moment on I'm changing the way I feel, it' time to get real. 'Cause I have to wanna heal."

Kekasihmu. (Bagian II)

Seoarang pria yang sangat-sagat beruntung bisa menakhlukan sekaligus mendapatkan hatimu. Pria tampan, kaya, berbadan atletis dan sangat diidolai banyak wanita di kampusnya (kampusmu juga). Pria yang lebih tua satu tahun darimu. Pria yang selalu memperlakukanmu bagai tuan putri. Pria yang selalu ingin bersamamu dimanapun kamu ada. Pria yang ingin menjadi alasanmu tersenyum. Pria yang ingin menjadi alasanmu melupakan masa lalumu. Pria yang selalu memberikan kejutan padamu. Tidak berupa memberi hadiah mewah, tapi dengan perhatiannya dan juga hal-hal kecil yang tak pernah kamu bayangkan dan kamu dapatkan dulu. Kamu bahagia karena pria itu. Kamu (hampir) berhasil melupakan masa lalumu karen pria ini. Kamupun mulai merasa beruntung bisa memilikinya. Tak lama memang waktu yang dibutuhkan pria ini untuk menakhlukan hatimu. Kamu mulai percaya pria ini. Kamupun sedikit demi sedikit mulai mengenal lebih dalam sifat pria ini. Pria ini berasal dari keluarga kaya. Pria ini memiliki prinsip yang kuat dan sangat idealis. Ada sisi dari pria ini yang kamu tak suka belakangan ini. Tempramen. Mungkin maksud pria ini baik, dia tak ingin kalau sampai terjadi apa-apa padamu. Hal yang paling dia khawatirkan darimu adalah kamu kembali memikirkan masa lalumu. Sempat pria ini memarahimu, membentakmu, tak hanya ditelfon, tapi juga saat kalian di kampus. Di depan teman-temannya dan temanmu juga. Tidak jarang memang dia begitu. Hal itulah yang membuatmu menangis karenanya. Sampai pada puncaknya, setelah dia membentakmu di kampus habis-habisan di depan teman-temannya, di depan temanmu juga. Kamu hanya bisa duduk sambil menunduk menahan tangismu. Tapi, akhirnya kamu menangis juga. Memang, wanita mana yang tak akan menangis jika pria yang ia sayang memperlakukannya seperti yang kamu alami saat ini. Pria ini tal pedulu akan temannya dan temanmu yang melihatnya membentakmu. Kamu yak tahan. Akhirnya, kamu memutuskan untuk tak melanjutkan hubungan ini dengan pria itu. Tak ada usaha pria itu untuk menarik kembali dan memikirkan kembali keputusanmu. Pria ini hanya berdiri di tempatnya sambil melihatmu yang pergi menjauh meninggalkannya. Beberapa hari setelah kejadian itu, pria ini mulai menyadari kesalahannya. Pria ini datang padamu lagi dan berusaha meminta maaf padamu. Pria ini mulai membujukmu untuk kembali padanya. Sampai setelah dua minggu pria ini gigih berusaha untuk menjelaskan padamu kalau ia mau merubah sikapnya itu dan berjanji tak akan mengulangi kesalahannya, kamu pun kembali luluh dibuatnya. Kamu kembali bersamanya.

03/04/13

Dia. (Bagian I)

Dia yang mengagumimu. Dia yang menyayangimu lebih dari kekasihmu. Dia yang selalu menjadi tisu dikala air mata mulai membanjiri wajahmu. Dia yang selalu bersedia memberikan pundaknya dikala kamu sedih. Dia yang sudah hafal semua tentangmu, tak perlu banyak kata hanya pelukannya yang kamu butuhkan. Dia yang tak bisa bilang bahwa dia sangat mencintaimu dan sangat ingin menginginkanmu. Dia seperti tanah yang setia menerima guyuran air hujan-air mata- yang kau tumpahkan. Dia seperti tanah yang diam-diam menyimpan rasa sayang pada hujan. Kalau bisa, sebenarnya dia ingin menjadi payung yang bisa melindungimu dari guyuran hujan. Kalau bisa, sebenarnya dia ingin menjadi selimut yang senantiasa memberikan kehangatan padamu. Kalau bisa, sebenarnya dia ingin menjadi kekasih..ah sudahlah hal itu tak lagi terlalu dia pikirkan. Dia yang lebih memilih menjadi pelampiasan air matamu. Dia yang lebih memilih diam ketimbang harus mengakui perasaannya dan mendapati kamu akan berubah padanya nanti. Dia yang selalu menahan rasa kesalnya karena melihat wanita yang dia cintai selalu dibuat kecewa oleh kekasihnya. Dia yang tak mampu berbuat banyak ketika kamu bilang, "Aku sayang sama dia. Sayang banget. Walaupun dia sering ngecewain aku, aku tahu itu kebiasaannya, dari situ aku merasa memilikinya. Aku utuh karenanya. Aku bahagia bersamanya." Dia yang selalu mengalah dan menahan rasa sakit ketika dia mendapati alasan kamu tersenyum adalah kekasihmu. Dan sekaligus, kekasihmu juga satu-satunya alasan yang membuatmu menangis dan datang padaku. Dia sebenarnya tak suka kamu selalu dibuatnya menangis. Tapi dengan kamu menangis, kamu jadi datang padanya. Dia bahagia ketika kamu datang padanya, walaupun alasannya selau dan selalu membuatnya tak senang. Tapi dia terus seperti itu, demi menjagamu, demi membuatmu tersenyum kembali. Demi menjadi satu-satunya alasanmu datang padanya disaat kamu dibuat sedih kekasihmu. "Friends, lovers or nothing, there can ONLY BE ONE. Friends, lovers or nothing, there'll never be an in between so give it up." Iya, hanya bisa satu. Satu yang dia pilih untuk sekarang. Dia bahagia seperti ini. Dia bahagia masih bisa ada buatmu. Dia sayang padamu melebihi kekasihmu. Dia tak mau dan tak bisa kehilanganmu.