31/03/13

Aku, Kamu dan Dia

Aku.
Aku adalah tanah, yang diam-diam menyimpan cinta pada hujan.
Aku adalah pelangi, yang membuatmu berhenti menangis karena kekasihmu.
Aku adalah rumah, yang menunggu penghuninya pulang dan belum kembali lagi setelah sekian lama kau hidup dan tumbuh di dalamnya.
Aku adalah cemburu, cemburu terbesar kekasihmu.
Dan aku adalah penikmat rindu, yang bahkan tak tahu seperti apa wujud asli dari rindu itu.

Kamu.
Kamu adalah hujan, yang membuat tanah jatuh cinta karena kesejukanmu.
Kamu adalah bentuk dari semua doa yang kupanjatkan pada Tuhan.
Kamu adalah kebahagiaan, alasan kenapa aku terus tersenyum.
Kamu adalah cinta, yang bisa kurasakan tapi tak lagi kumiliki.
Dan kamu adalah tujuan, di mana tempatku akan kembali pulang, mengisi rumah kenangan yang sudah lama kau kosongi.

Dia.
Dia adalah penikmat hujan. Anak kecil yang tak berpayungkan perasaan. Ia hanya tahu hujan membawanya kembali kepada kenangan.
Dia adalah payung, yang menolak hujan membasahi siapa yang ada di bawahnya. Membiarkan dirinya terpukul oleh butiran-butiran hujan yang tak terhitung jumlahnya.
Dia itu persinggahan. Tempatmu beristirahat sejenak, singgah, dari perjalananmu kembali menuju rumah.
Dia adalah masa depan. Paling tidak sekarang. Yang cepat atau lambat akan segera menjadi masa lalumu.
Dan dia adalah Matahari, yang membuat air laut menguap dan membuat awan menjadi mendung yang tak lama kemudian akan berubah menjadi butiran hujan. Yang akan menimbulkan pelangi setelah hujan berhenti, karena biasnya pada air.

16/03/13

Teruntuk Kamu.

Katamu, "Berhentilah mencintaiku." Mulutku kaku, tapi hati ini berbisik, "Bukankah kau pernah bilang jangan pernah menyia-nyiakan orang yang sayang padamu?"

Tanganku, seperti layaknya tangan bayi. Lemah. Tak sanggup terus menahanmu. Kakiku, punya mata tapi tak tau arah saat kau bilang, "pergilah dariku..".

Apa kau tau kenapa mata dan telinga diciptakan lebih banyak daripada mulut? Supaya aku lebih bisa dan masih tetap bisa melihat dan mendengar semua tentangmu dari kejauhan.

Di langit subuh, jatuhkanlah dirimu dalam hujan. Agar kau belajar darinya. Jika jatuh itu bisa terjadi berulang kali. Agar kau pun mengerti jika hujan bisa membuatmu jadi pembual terhebat dan terlihat seakan kamu tidak menangis padahal kamu kuyup oleh air matamu sendiri.

Teruntuk kamu, apa kamu sadar kamu selalu menemukanku di setiap lamunanmu? Apa kamu sadar disetiap doamu selalu menghadirkan namaku? Apa kamupun menyadari kalau diam-diam kamu berharap kita bertemu di dalam mimpimu sebelum kau tidur?

14/03/13

Si-Pemakai-Topeng

Hm gini, kalian pernah mikirin gak, sih, gimana sebenernya atau apa sebenernya yang lagi dirasain seseorang pas lagi pake topeng? Kalian tau apa yang mereka tunjukin sebenernya dibalik topeng itu? Maksud gue, kita gak pernah tau kan apa yang orang lain sembunyiin dibalik ketawanya, senyumnya, tangisnya, marahnya, pokoknya segala bentuk emosi yang bisa orang itu ungkapin lewat ekspresi wajah. Kebanyakan terselip "gue lagi butuh banget perhatian lo" di balik "gak kenapa-kenapa kok"-nya cewek. Atau ya semacamnya lah, kalian pasti ngerti. Yang gue tekankan disini, apa salahnya, sih, buat jujur? Emang sih, dalam hal jujur-jujuran gue paling cupu. Apalagi sekarang.

Jadi gini, gak semua orang yang ketawa, bilang "gue seneng hari ini bisa sama lo" sambil senyum, terus kenyataannya dia bener-bener seneng kayak apa yang lo pikirin. Kalian pernah mikir gak, sih, kalau dia/mereka yang bilang begitu ke kalian cuma karena gak mau bikin kecewa kalian? Atau karena cuma mau bikin kalian seneng aja? (Oke, apa bedanya, Man, sama gak bikin kecewa? | emboh..) Ya.. pokoknya gitu. Kalian gak pernah mikir kayak gitu? Oh gue tau, kalian terlanjur percaya? Kok bisa? Gini, ya, gue kasih tau lagi, bisa aja orang-orang yang suka kayak gitu ke kalian, cuma gak mau di'cap' yang jelek-jelek. Paling umum, PHP (Pemberi Harapan Palsu). By the way, ngomongin soal pemberi harapan palsu, udah berapa hari ini pas gue latihan di Kopassus, Cijantung, gue liat ada mobil tulisannya "TIM HARPAL KOPASSUS". Gue curiga kalau 'HARPAL' disitu adalah kependekan dari 'Harapan Palsu'. Jadi kalau gak disingkat jadinya gini 'TIM HARAPAN PALSU KOMANDO PASUKAN KHUSUS'. (Apasih, Man?) Yak, oke skip, kembali ke topik *nunjuk laptop(?)*. Ya.. jadi gitu, cewek-cewek sekarang terlalu gampang ngasih gelar si cowok yang lagi deketin dia baru dua hari tapi gak nembak-nembak dia, eh.. dikasih gelar PHP. Yaaaa menurut, mbak, aja deh, yaaaaa. Lo pikir baru dua hari deket langsung bisa suka? Iya? Helloooooow~ *sebel*
Sebenernya kalau menurut gue, gak sepenuhnya salah makhluk yang bernama cowok itu juga kalau sampe si cewek ngerasa di-PHP-in. Ada kesalahan-kesalahan fatal dan mendasar banget yang selalu dan pasti dimiliki kaum Hawa ini. Apa aja? Nih, cewek pasti gampang berharap. Ya walaupun gak tinggi-tinggi banget tapi pasti ada lah harapan mau segera diangkat jadi pacar si cowok yang dia pikir lagi ngedeketin dia dengan modus nanya tugas kuliah, padahal si cowok niatnya beneran emang mau nanya tugas kuliah tanpa ada embel-embel mau ngedeketin. Dasar, ke-pede-an! Terus juga, cewek itu gampang 'kemakan' omongan cowok. Ya kalau ini sih gak bisa ditentuin juga, sih, yang salah siapa. Pasti kalau gue bilang salah cewek, dan lo (cewek) lagi baca ini pasti protes "ya itu mah emang dasar cowoknya aja br*ngs*k!" -_-. Dan kalau gue bilang cowoknya yang salah, pasti kalian (cowok) yang baca ini bilang, "salah merekanya (cewek) aja kenapa gampang banget dibegoin?" Eh tapi cewek-cewek yang lagi baca ini (kalau ada itu juga), pinter-pinter kooook :))))))))) haha! *cari aman*.

Setelah gue ngomongin apa aja kesalahan cewek tadi, sekarang gue juga mau bilang, cewek gak bakal jadi 'korban PHP' kalau niat si cowok pada bener. Jadi, si cewek juga gak sepenuhnya salah. Nih, kalau mau tau kenapa cowok bisa dicap PHP. Gini, cowok A lagi deket sama cewek A (Iya, namanya sama aja biar dibilang jodoh). Terus, si cowok ini mulai flirting-flirting, tuh, ke si cewek. Setelah sekian lama mereka saling kenal, saling flirting, tiba-tiba si cowok jarang ngehubungin si cewek lagi. Gak lama berselang, pas entah kebetulan atau emang FTV-banget, si cewek ngeliat cowok yang lagi deket sama dia itu lagi sama cewek lain. Nah, jadilah si cowok dapet tuh gelar PHP. Udah gitu, kebetulan lagi atau emang FTV-banget lagi, si cewek ini orangnya punya rasa ingin tau yang gede banget (baca: K(nowing) E(verything) P(articular) O(bject)). Dia tau kalau ternyata bukan dia doang yang jadi korban PHP-nya si cowok tadi. Makin menjadi-jadilah gelar PHP tersemat di diri cowok itu.

Nah, setelah penjelasan yang agak ngawur atau emang bisa dibilang ngawur banget itu, gue mau narik kesimpulannya, nih. Jadi, jujur aja, deh, apa susahnya, sih, jujur? Justru karena susah makanya jujur itu mahal. Eh tapi kue jujur yang dijual di deket rumah gue murah kok (itu cucur, Man, cucur!-_-). Terus juga, buat kalian yang rentan jadi korban PHP, kalian harus tetap punya proteksi diri dari kemungkinan orang-orang yang lagi pura-pura sama kalian atau lagi pake 'topeng'. Sebenernya tujuan si-tukang-pura-pura ini baik, sih, kan mau ngebuat orang yang lagi bisa dibilang jadi korban-ke-pura-pura-annya ini ngerasa seneng. Tapi ya balik lagi ke tadi, apa susahnya, sih, buat jujur? Buat kalian yang baca ini dan ngerasa kalau ini kalian banget, maaf, gue cuma sharing aja, kok :). Gak ada maksud dan tujuan apapun sama sekali buat nyindir kalian. Ini buat bahan introspeksi diri gue juga, kok. Ya gue berharap, sih, jangan sampe deh kalian jadi orang yang kayak udah gue tulis ini. Jangan jadi kayak gue yang gak berani jujur. Jangan jadi pengecut, ya. Gak enak, bro, sumpah. Semoga tulisan ini ngasih manfaat dan bikin kalian yang baca jadi ada bahan buat evaluasi diri buat jadi lebih baik lagi, ya hehe Amin. Mohon maaf sekali lagi kalau ada yang merasa tersindir. Kalau ada saran atau kritik, kasih komen aja. Ini negara demokrasi, gak usah takut buat ungkapin pendapat hehe.












































*Si-Pemakai-Topeng, end.