02/11/13

Sudah, Nikmati Saja Aku.

Aku adalah bulan yang menerangi malam. Tetapi, aku heran kenapa malam betah selalu diterangi oleh bulan? Apakah malam mencintai bulan? Atau sebaliknya?  Entahlah, yang aku tahu matahari sangat mencintai siang. Buktinya, dia memberikan semua sinar yang dia punya untuk menyinari siang. Walaupun begitu, banyak orang yang mengeluhkan sinarnya di siang hari. Salah satunya aku, aku tidak benci matahari pun begitu dengan siang. Aku hanya tidak suka jika matahari terlalu berlebihan memberikan sinarnya pada siang. Apakah dia tidak pernah memikirkan kalau nantinya dia akan kehabisan sinarnya? Lagipula, sinarnya panas.  Apakah ada orang yang tahan dengan sinarnya di siang hari saat matahari sedang panas-panasnya? Mungkin ada, tetapi tidak banyak. Itu pun mungkin karena mereka terpakasa harus berhadapan dengan sinarnya. Tetapi, sinar matahari tidak selalu menjengkelkan. Pada saat senja misalnya, sinarnya  banyak dicari orang.  Bukan, maaf, tetapi dirinya. Dia rela dirinya dinikmati begitu banyak orang dan dia hanya diam menyuguhkan sinar yang indah dan cantik. Apakah benar Tuhan yang mengizinkan matahari berbuat seperti itu? Jika iya, maka Tuhan layak untuk diberi pujian. Akan tetapi, apakah kalian yang menikmati tubuh matahari itu mempercayai adanya Tuhan? Apakah kalian semua yakin pada Tuhan? Aku, sih, tidak tahu. Itu masalah kalian jika kalian tidak percaya atau tidak yakin kepada-Nya, yang jelas kita ini hanyalah ibarat boneka bagi-Nya. Dia menciptakan kita di dunia ini dan memberi perintah supaya kita beribadah kepadanya, padahal Dia sudah tahu apa yang akan kita lakukan di dunia ini. Dia sudah tahu kalau aku akan membicarakan-Nya di tulisan ini, Dia juga sudah tahu kalau kalian akan membaca tulisan ini dan mungkin kalian langsung berpikir kalau Dia sedang ada di samping kalian mengawasi kalian. Kenapa? Kalian takut? Tidak usah takut hanya karena Tuhan sudah tahu semua apa yang akan kita perbuat selama mulai hidup sampai mati nanti. Anggap saja masa hidup kita ini adalah masa ujian. Lama? Memang. Kalian mau protes? Loh, kenapa? Bukannya kalian belum yakin akan adanya Tuhan? Sudahlah, terima saja. Kalau memang mau protes, apa yang akan kalian lakukan? Berdoa kepada-Nya saja kalian tidak pernah malah sekarang mau protes? Kalian itu lucu, mau enaknya tetapi tidak mau susahnya. Iya memang tidak cuma kalian, aku juga begitu. Aku hanya menuruti dan menjalankan perintahnya saja. Aku diperintahkan muncul pada malam hari, aku menyanggupi. Aku diciptakan tidak mempunyai sinar sendiri, aku terima. Aku diciptakan tidak sebesar matahari yang banyak dikagumi oleh kalian, aku tidak protes. Akan tetapi, kadang aku merasa bosan dan ingin rasanya bertukar tempat dengan matahari, apalagi dengan kalian para manusia. Kalian harusnya bersyukur bisa menikmati sinar matahari di pagi, siang, dan sore hari gratis tanpa diminta bayaran oleh Tuhan kalian. Bukannya malah protes dan menyepelekan-Nya. Pantas saja kalau Tuhan seringkali membuat kalian merasakan bencana, kehilangan anggota keluarga, orang yang kalian sayang, dan bahkan kehilangan sebagian anggota tubuh kalian. Kalian belum menyadari juga kalau Dia berbuat seperti itu karena Dia marah atas apa yang kalian lakukan di dunia? Bodoh sekali kalian ini ternyata! Tetapi, ya sudahlah tidak usah disesalkan. Sekarang biarkanlah mata kalian menikmati ribuan bintang yang mengelilingiku di alam semesta ini. Aku sedang penuh hari ini. Nikmatilah tubuhku selagi kalian bisa. Walaupun bukan sinarku sendiri aku sudah bersyukur aku bisa dilihat oleh kalian, ya tapi tetap saja yang jadi primadona si matahari itu. Ya sudah, nikmati saja aku dengan apa adanya aku. Jangan protes lagi, ya.

11/08/13

God Is Good

When you say, "You're too good to be with me.." as a reason to ended our relationship, don't you ever thougth that "Good" is just only for God?

10/04/13

Senja Februari.

Di pantai itu, tanganmu menggenggam erat tanganku.
Menyaksikan pertunjukan Tuhan yang paling indah sore itu.
Senja itu begitu singkat.
Seakan laut sudah tak sabar ingin segera memeluk matahari.
Hingga tak tersisa lagi oranye di langit, tanganmu masih tetap erat di tanganku.
"Aku mau terus seperti ini", ujarmu.
Sesaat kemudian, bibir kita bertemu, saling melepas rindu, berpagut seakan tak ada yang mau 'termakan' duluan.
10 tahun sudah setelah kamu pergi meninggalkanku.
Kau tahu? Aku sudah terbiasa sendiri.
Aku sudah terbiasa tak memikirkanmu.
Aku sudah terbiasa memikmati pertunjukkan Tuhan setiap sore itu tanpamu.
Hanya ditemani sahabat baruku, kertas dan pensil.
Mereka pasangan hebat, darinya, terlahir berlembar-lembar puisi.
Bukan, bukan puisi untuk atau tentangmu.
Aku sudah terbiasa tidak mempedulikanmu.
Tapi ada yang beda sore itu.
Aku kembali mengingatmu.
Hari itu, tanggal 6, di bulan yang sama saat kamu bilang kamu mau terus seperti waktu itu.
Aku tertawa, menertawai diriku.
Entah kenapa aku percaya dan sangat mengharap kalau kita akan terus seperti itu.
Setahun setelah kamu mengucapkan itu, kamu meninggalkanku dengan alasan yang sampai saat ini masih belum bisa aku terima.
Kamu dijodohkan orang tuamu.
Tidak ada usaha darimu untuk menolaknya.
Aku sadar, cobaan terberat yang diberikan Tuhan adalah ini.
Tuhanmu dan Tuhanku punya rencana lain.
Dia tak menginginkan kita menjadi satu.
Dengan orang tuamu sebagai 'hakim' pemberi vonis bahwa kamu harus dijodohkan dengan lelaki pilihannya.
Setelah kejadian itu, tak pernah lagi aku dengar kabar darimu.
Kepada siapa aku harus marah?
Hidupku seketika berputar 180°.
Aku kalut, narkotika, minuman keras jadi 'teman' setiaku.
Kuliahku berantakan.
Tetapi kemudian aku sadar aku tak bisa terus seperti ini.
Sedikit demi sedikit kutinggalkan 'teman'ku itu.
Dua tahun kemudian aku lulus kuliah dari bidang sastra.
Aku membangunkan kembali mimpi masa kecilku; menjadi penulis.
Sampai suatu sore, di pantai yang selalu menjadi tempatku melihat pertunjukan matahari terbenam, ada sesosok wanita yang datang menghampiriku.
Wajah yang tak asing bagiku.
Dia langsung duduk di sampingku, tanpa ragu dia bilang, "masih sama, ya, senjanya? Gak berubah. Cantik." Kemudian senyuman itu menyadarkanku.
Wanita itu kamu.
"Mau apa kamu datang kemari?", tanyaku sinis.
"Loh, memang kenapa? Gak boleh? Ini tempat umum kan? Sejak kapan ini jadi tempatmu, Dimas Aditya Nugraha?", balasmu sambil tertawa.
"Kenapa kamu pergi semudah itu? Kenapa kamu sama sekali gak mencoba mempertahankan hubungan kita waktu itu? Kenapa kamu..", belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, dia sudah memelukku. Erat. Hangat. Masih sama seperti dulu. Aku ingat.
Kemudian kamu menangis, menuangkan semua air matamu.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku.
"Maafin aku, Dit, maafin aku..", sambil terisak kamun mencoba memberikan penjelasan padaku.
Sedikit penyesalan kenapa aku harus menanyakan hal itu tadi mulai muncul.
"Aku gak bisa ngelawan orang tuaku. Aku sayang sama mereka. Aku juga sayang sama kamu. Aku sayang sama kalian semua.", kamu melanjutkan.
"Aku gak tahu harus gimana saat itu, Dit. Aku takut aku akan jadi anak durhaka kalau saja waktu itu aku lebih memilihmu dan melawan keputusan orang tuaku. Aku gak mau, Dit.", tangismu mulai berhenti.
Kamu melepas pelukanmu, merapihkan rambutmu dan menghapus air matamu yang turun deras membasahi wajahmu.
"Aku cerai dua tahun setelah aku menikah dengan laki-laki brengsek pilihan orang tuaku itu.", kamu melanjutkan. Kali ini bukan kesedihan yang terpancar dari sorot mata dan nada bicaramu, melainkan amarah, rasa kesal. Kamu mulai bercerita bahwa mantan suamimu itu sering memperlakukanmu secara tak wajar. Dia sering memarahimu tanpa alasan yang jelas. Belakangan, kamu tahu kalau ternyata dia sering berjudi. Kamu tak sengaja memergokkinya. Tidak tahan akan perlakuan mantan suamimu itu, akhirnya kami mengambil langkah cerai. Kamu awalnya gak menyangka kalau lelaki pilihan orang tuamu ternyata laki-laki yang salah. Kamu menyesali keputusanmu. Menyesali keputusan orang tuamu. Tapi kamu sebagai anak tetap mengikuti apa kata orang tuamu. Kamu kembali menangis, menjadikan pundakku muara aliran air matamu. Aku memelukmu. Aku tak percaya wanita yang sangat aku cintai dulu (sampai sekarang) mengalami hal seperti ini. "Oiya, Dit, kamu dulu pernah bilang kan mau ngajak aku kenalan sama Tuhan kamu kalau akunya sudah siap?", tiba-tiba kamu bertanya. Ingatanku kembali ke 10 tahun lalu. Di pantai itu, setelah ciuman itu, aku memang memintamu atau mengajakmu 'berkenalan' dengan Tuhanku. Aku ingin mengikatmu dalam tali pernikahan. Tapi sayangnya orang tuamu tak setuju. Akhirnya mereka menjodohkanmu dengan lelaki yang sekarang malah membuatmu hancur. "Aku siap, Dit, aku sudah siap sekarang. Aku mau kenalan sama Tuhan kamu. Aku mau jadi teman hidup kamu." Senyummu begitu manis sore itu. Aku tak kuasa menolakmu.
Langit sudah gelap, matahari sudah kembali ke pelukan laut. Kamu pun kembali ke pelukanku. Aku sayang kamu, Karlina Eka Febriani.
Dua bulan setelah pertemuan kita di pantai itu, aku melamarmu, meminta ijin orang tuamu untung menjadikan anak perempuan satu-satunya untuk dijadikan pasangan hidupku selamanya. Orang tuamu menyutujuinya. Tak ada lagi penolakan kali ini. Aku lega. 6 Februari kamu pilih untuk dijadikan tanggal pernikahan kita. Sekaligus ulang tahunmu.
Pagi itu, di suatu masjid, di depan penghulu, orang tuaku, orang tuamu, serta kerabat-kerabat kita semua, aku mengucap kata ijab. "Saya terima nikah dan kawinnya Karlina Febrian Anggraini binti Adiraga Sulistyo dengan mas kawin uang sejumlah enam ribu dua ratus enam puluh dua rupiah dan alat shalat dibayar tunai.", kataku. Dengan itu, aku resmi menjadi suamimu. Aku mengecup keningmu. Tangis haru dan bahagia seketika hadir di seisi ruangan masjid.

06/04/13

Untitled

" You know what hurts the most? You’re happier with him than with me. It makes me think I’m not worth a penny."-- @aMrazing

04/04/13

Kamu. (Bagian III)

Kamu. Puncak dari segala rasa rindu. Alasan kenapa dia dan kekasihmu jatuh cinta.
Kamu. Alasan kenapa dia dengan sabar sampai sekarang tak mengungkapnya perasaan yang sebenarnya. Alasan kenapa dia rela menunggu sesuatu yang tak pasti. Dia sangat mengerti kamu. Dia sangat menyayangimu.
Kamu. Yang mulai bahagia bersama kekasihmu. Yang mulai percaya kekasihmu. Yang mulai menemui jalan keluar dari masa lalumu.
Kamu spesial. Untuknya, maupun untuk kekasihmu. Terutama untuknya. Kenapa? Karena dia masa lalumu. Dia sengaja tidak memperkenalkan dirinya sebagai masa lalumu. Karena dia tahu, dia tak ingin lagi membuatmu terus melihat kebelakang disaat kamu sudah bersama kekasimu sskarang. Tapi bagian ini bukan tentang dia, ini tetang kamu.
Kamu. Sudah hampir setengah tahum kamu menjalani hari-hari bersama kekasihmu. Walaupun sempat ada ganjalan disana-sini, kamu mau memberikan kesempatan pada kekasihmu. Kamu memang begitu. Tak mudah untuk menyerah dalam menjalani suatu hubungan. Kecuali memang jika kamu pikir sudah tidak ada lagi alasan kenapa kamu harus memperthankan hubungan itu. Kamu sudah banyak merencanakan hal-hal menarik kedepan bersama kekasihmu. Ya..sama seperti dulu, hal itu juga kamu lakukan dengan kekasihmu sekarang. Sebenarnya, kamu pun tidak mau terlalu merencanakan sesuatu untuk masa depan. Karena kamu masih takut jika saja apa yang kamu sudah rencanakan itu kembali rusak karena hubunganmu denga kekasihmu sekarang berakhir. Tapi, kamu mencoba, mencoba untuk bangkit dari masa lalu.
"From this moment on I'm changing the way I feel, it' time to get real. 'Cause I have to wanna heal."

Kekasihmu. (Bagian II)

Seoarang pria yang sangat-sagat beruntung bisa menakhlukan sekaligus mendapatkan hatimu. Pria tampan, kaya, berbadan atletis dan sangat diidolai banyak wanita di kampusnya (kampusmu juga). Pria yang lebih tua satu tahun darimu. Pria yang selalu memperlakukanmu bagai tuan putri. Pria yang selalu ingin bersamamu dimanapun kamu ada. Pria yang ingin menjadi alasanmu tersenyum. Pria yang ingin menjadi alasanmu melupakan masa lalumu. Pria yang selalu memberikan kejutan padamu. Tidak berupa memberi hadiah mewah, tapi dengan perhatiannya dan juga hal-hal kecil yang tak pernah kamu bayangkan dan kamu dapatkan dulu. Kamu bahagia karena pria itu. Kamu (hampir) berhasil melupakan masa lalumu karen pria ini. Kamupun mulai merasa beruntung bisa memilikinya. Tak lama memang waktu yang dibutuhkan pria ini untuk menakhlukan hatimu. Kamu mulai percaya pria ini. Kamupun sedikit demi sedikit mulai mengenal lebih dalam sifat pria ini. Pria ini berasal dari keluarga kaya. Pria ini memiliki prinsip yang kuat dan sangat idealis. Ada sisi dari pria ini yang kamu tak suka belakangan ini. Tempramen. Mungkin maksud pria ini baik, dia tak ingin kalau sampai terjadi apa-apa padamu. Hal yang paling dia khawatirkan darimu adalah kamu kembali memikirkan masa lalumu. Sempat pria ini memarahimu, membentakmu, tak hanya ditelfon, tapi juga saat kalian di kampus. Di depan teman-temannya dan temanmu juga. Tidak jarang memang dia begitu. Hal itulah yang membuatmu menangis karenanya. Sampai pada puncaknya, setelah dia membentakmu di kampus habis-habisan di depan teman-temannya, di depan temanmu juga. Kamu hanya bisa duduk sambil menunduk menahan tangismu. Tapi, akhirnya kamu menangis juga. Memang, wanita mana yang tak akan menangis jika pria yang ia sayang memperlakukannya seperti yang kamu alami saat ini. Pria ini tal pedulu akan temannya dan temanmu yang melihatnya membentakmu. Kamu yak tahan. Akhirnya, kamu memutuskan untuk tak melanjutkan hubungan ini dengan pria itu. Tak ada usaha pria itu untuk menarik kembali dan memikirkan kembali keputusanmu. Pria ini hanya berdiri di tempatnya sambil melihatmu yang pergi menjauh meninggalkannya. Beberapa hari setelah kejadian itu, pria ini mulai menyadari kesalahannya. Pria ini datang padamu lagi dan berusaha meminta maaf padamu. Pria ini mulai membujukmu untuk kembali padanya. Sampai setelah dua minggu pria ini gigih berusaha untuk menjelaskan padamu kalau ia mau merubah sikapnya itu dan berjanji tak akan mengulangi kesalahannya, kamu pun kembali luluh dibuatnya. Kamu kembali bersamanya.

03/04/13

Dia. (Bagian I)

Dia yang mengagumimu. Dia yang menyayangimu lebih dari kekasihmu. Dia yang selalu menjadi tisu dikala air mata mulai membanjiri wajahmu. Dia yang selalu bersedia memberikan pundaknya dikala kamu sedih. Dia yang sudah hafal semua tentangmu, tak perlu banyak kata hanya pelukannya yang kamu butuhkan. Dia yang tak bisa bilang bahwa dia sangat mencintaimu dan sangat ingin menginginkanmu. Dia seperti tanah yang setia menerima guyuran air hujan-air mata- yang kau tumpahkan. Dia seperti tanah yang diam-diam menyimpan rasa sayang pada hujan. Kalau bisa, sebenarnya dia ingin menjadi payung yang bisa melindungimu dari guyuran hujan. Kalau bisa, sebenarnya dia ingin menjadi selimut yang senantiasa memberikan kehangatan padamu. Kalau bisa, sebenarnya dia ingin menjadi kekasih..ah sudahlah hal itu tak lagi terlalu dia pikirkan. Dia yang lebih memilih menjadi pelampiasan air matamu. Dia yang lebih memilih diam ketimbang harus mengakui perasaannya dan mendapati kamu akan berubah padanya nanti. Dia yang selalu menahan rasa kesalnya karena melihat wanita yang dia cintai selalu dibuat kecewa oleh kekasihnya. Dia yang tak mampu berbuat banyak ketika kamu bilang, "Aku sayang sama dia. Sayang banget. Walaupun dia sering ngecewain aku, aku tahu itu kebiasaannya, dari situ aku merasa memilikinya. Aku utuh karenanya. Aku bahagia bersamanya." Dia yang selalu mengalah dan menahan rasa sakit ketika dia mendapati alasan kamu tersenyum adalah kekasihmu. Dan sekaligus, kekasihmu juga satu-satunya alasan yang membuatmu menangis dan datang padaku. Dia sebenarnya tak suka kamu selalu dibuatnya menangis. Tapi dengan kamu menangis, kamu jadi datang padanya. Dia bahagia ketika kamu datang padanya, walaupun alasannya selau dan selalu membuatnya tak senang. Tapi dia terus seperti itu, demi menjagamu, demi membuatmu tersenyum kembali. Demi menjadi satu-satunya alasanmu datang padanya disaat kamu dibuat sedih kekasihmu. "Friends, lovers or nothing, there can ONLY BE ONE. Friends, lovers or nothing, there'll never be an in between so give it up." Iya, hanya bisa satu. Satu yang dia pilih untuk sekarang. Dia bahagia seperti ini. Dia bahagia masih bisa ada buatmu. Dia sayang padamu melebihi kekasihmu. Dia tak mau dan tak bisa kehilanganmu.

31/03/13

Aku, Kamu dan Dia

Aku.
Aku adalah tanah, yang diam-diam menyimpan cinta pada hujan.
Aku adalah pelangi, yang membuatmu berhenti menangis karena kekasihmu.
Aku adalah rumah, yang menunggu penghuninya pulang dan belum kembali lagi setelah sekian lama kau hidup dan tumbuh di dalamnya.
Aku adalah cemburu, cemburu terbesar kekasihmu.
Dan aku adalah penikmat rindu, yang bahkan tak tahu seperti apa wujud asli dari rindu itu.

Kamu.
Kamu adalah hujan, yang membuat tanah jatuh cinta karena kesejukanmu.
Kamu adalah bentuk dari semua doa yang kupanjatkan pada Tuhan.
Kamu adalah kebahagiaan, alasan kenapa aku terus tersenyum.
Kamu adalah cinta, yang bisa kurasakan tapi tak lagi kumiliki.
Dan kamu adalah tujuan, di mana tempatku akan kembali pulang, mengisi rumah kenangan yang sudah lama kau kosongi.

Dia.
Dia adalah penikmat hujan. Anak kecil yang tak berpayungkan perasaan. Ia hanya tahu hujan membawanya kembali kepada kenangan.
Dia adalah payung, yang menolak hujan membasahi siapa yang ada di bawahnya. Membiarkan dirinya terpukul oleh butiran-butiran hujan yang tak terhitung jumlahnya.
Dia itu persinggahan. Tempatmu beristirahat sejenak, singgah, dari perjalananmu kembali menuju rumah.
Dia adalah masa depan. Paling tidak sekarang. Yang cepat atau lambat akan segera menjadi masa lalumu.
Dan dia adalah Matahari, yang membuat air laut menguap dan membuat awan menjadi mendung yang tak lama kemudian akan berubah menjadi butiran hujan. Yang akan menimbulkan pelangi setelah hujan berhenti, karena biasnya pada air.

16/03/13

Teruntuk Kamu.

Katamu, "Berhentilah mencintaiku." Mulutku kaku, tapi hati ini berbisik, "Bukankah kau pernah bilang jangan pernah menyia-nyiakan orang yang sayang padamu?"

Tanganku, seperti layaknya tangan bayi. Lemah. Tak sanggup terus menahanmu. Kakiku, punya mata tapi tak tau arah saat kau bilang, "pergilah dariku..".

Apa kau tau kenapa mata dan telinga diciptakan lebih banyak daripada mulut? Supaya aku lebih bisa dan masih tetap bisa melihat dan mendengar semua tentangmu dari kejauhan.

Di langit subuh, jatuhkanlah dirimu dalam hujan. Agar kau belajar darinya. Jika jatuh itu bisa terjadi berulang kali. Agar kau pun mengerti jika hujan bisa membuatmu jadi pembual terhebat dan terlihat seakan kamu tidak menangis padahal kamu kuyup oleh air matamu sendiri.

Teruntuk kamu, apa kamu sadar kamu selalu menemukanku di setiap lamunanmu? Apa kamu sadar disetiap doamu selalu menghadirkan namaku? Apa kamupun menyadari kalau diam-diam kamu berharap kita bertemu di dalam mimpimu sebelum kau tidur?

14/03/13

Si-Pemakai-Topeng

Hm gini, kalian pernah mikirin gak, sih, gimana sebenernya atau apa sebenernya yang lagi dirasain seseorang pas lagi pake topeng? Kalian tau apa yang mereka tunjukin sebenernya dibalik topeng itu? Maksud gue, kita gak pernah tau kan apa yang orang lain sembunyiin dibalik ketawanya, senyumnya, tangisnya, marahnya, pokoknya segala bentuk emosi yang bisa orang itu ungkapin lewat ekspresi wajah. Kebanyakan terselip "gue lagi butuh banget perhatian lo" di balik "gak kenapa-kenapa kok"-nya cewek. Atau ya semacamnya lah, kalian pasti ngerti. Yang gue tekankan disini, apa salahnya, sih, buat jujur? Emang sih, dalam hal jujur-jujuran gue paling cupu. Apalagi sekarang.

Jadi gini, gak semua orang yang ketawa, bilang "gue seneng hari ini bisa sama lo" sambil senyum, terus kenyataannya dia bener-bener seneng kayak apa yang lo pikirin. Kalian pernah mikir gak, sih, kalau dia/mereka yang bilang begitu ke kalian cuma karena gak mau bikin kecewa kalian? Atau karena cuma mau bikin kalian seneng aja? (Oke, apa bedanya, Man, sama gak bikin kecewa? | emboh..) Ya.. pokoknya gitu. Kalian gak pernah mikir kayak gitu? Oh gue tau, kalian terlanjur percaya? Kok bisa? Gini, ya, gue kasih tau lagi, bisa aja orang-orang yang suka kayak gitu ke kalian, cuma gak mau di'cap' yang jelek-jelek. Paling umum, PHP (Pemberi Harapan Palsu). By the way, ngomongin soal pemberi harapan palsu, udah berapa hari ini pas gue latihan di Kopassus, Cijantung, gue liat ada mobil tulisannya "TIM HARPAL KOPASSUS". Gue curiga kalau 'HARPAL' disitu adalah kependekan dari 'Harapan Palsu'. Jadi kalau gak disingkat jadinya gini 'TIM HARAPAN PALSU KOMANDO PASUKAN KHUSUS'. (Apasih, Man?) Yak, oke skip, kembali ke topik *nunjuk laptop(?)*. Ya.. jadi gitu, cewek-cewek sekarang terlalu gampang ngasih gelar si cowok yang lagi deketin dia baru dua hari tapi gak nembak-nembak dia, eh.. dikasih gelar PHP. Yaaaa menurut, mbak, aja deh, yaaaaa. Lo pikir baru dua hari deket langsung bisa suka? Iya? Helloooooow~ *sebel*
Sebenernya kalau menurut gue, gak sepenuhnya salah makhluk yang bernama cowok itu juga kalau sampe si cewek ngerasa di-PHP-in. Ada kesalahan-kesalahan fatal dan mendasar banget yang selalu dan pasti dimiliki kaum Hawa ini. Apa aja? Nih, cewek pasti gampang berharap. Ya walaupun gak tinggi-tinggi banget tapi pasti ada lah harapan mau segera diangkat jadi pacar si cowok yang dia pikir lagi ngedeketin dia dengan modus nanya tugas kuliah, padahal si cowok niatnya beneran emang mau nanya tugas kuliah tanpa ada embel-embel mau ngedeketin. Dasar, ke-pede-an! Terus juga, cewek itu gampang 'kemakan' omongan cowok. Ya kalau ini sih gak bisa ditentuin juga, sih, yang salah siapa. Pasti kalau gue bilang salah cewek, dan lo (cewek) lagi baca ini pasti protes "ya itu mah emang dasar cowoknya aja br*ngs*k!" -_-. Dan kalau gue bilang cowoknya yang salah, pasti kalian (cowok) yang baca ini bilang, "salah merekanya (cewek) aja kenapa gampang banget dibegoin?" Eh tapi cewek-cewek yang lagi baca ini (kalau ada itu juga), pinter-pinter kooook :))))))))) haha! *cari aman*.

Setelah gue ngomongin apa aja kesalahan cewek tadi, sekarang gue juga mau bilang, cewek gak bakal jadi 'korban PHP' kalau niat si cowok pada bener. Jadi, si cewek juga gak sepenuhnya salah. Nih, kalau mau tau kenapa cowok bisa dicap PHP. Gini, cowok A lagi deket sama cewek A (Iya, namanya sama aja biar dibilang jodoh). Terus, si cowok ini mulai flirting-flirting, tuh, ke si cewek. Setelah sekian lama mereka saling kenal, saling flirting, tiba-tiba si cowok jarang ngehubungin si cewek lagi. Gak lama berselang, pas entah kebetulan atau emang FTV-banget, si cewek ngeliat cowok yang lagi deket sama dia itu lagi sama cewek lain. Nah, jadilah si cowok dapet tuh gelar PHP. Udah gitu, kebetulan lagi atau emang FTV-banget lagi, si cewek ini orangnya punya rasa ingin tau yang gede banget (baca: K(nowing) E(verything) P(articular) O(bject)). Dia tau kalau ternyata bukan dia doang yang jadi korban PHP-nya si cowok tadi. Makin menjadi-jadilah gelar PHP tersemat di diri cowok itu.

Nah, setelah penjelasan yang agak ngawur atau emang bisa dibilang ngawur banget itu, gue mau narik kesimpulannya, nih. Jadi, jujur aja, deh, apa susahnya, sih, jujur? Justru karena susah makanya jujur itu mahal. Eh tapi kue jujur yang dijual di deket rumah gue murah kok (itu cucur, Man, cucur!-_-). Terus juga, buat kalian yang rentan jadi korban PHP, kalian harus tetap punya proteksi diri dari kemungkinan orang-orang yang lagi pura-pura sama kalian atau lagi pake 'topeng'. Sebenernya tujuan si-tukang-pura-pura ini baik, sih, kan mau ngebuat orang yang lagi bisa dibilang jadi korban-ke-pura-pura-annya ini ngerasa seneng. Tapi ya balik lagi ke tadi, apa susahnya, sih, buat jujur? Buat kalian yang baca ini dan ngerasa kalau ini kalian banget, maaf, gue cuma sharing aja, kok :). Gak ada maksud dan tujuan apapun sama sekali buat nyindir kalian. Ini buat bahan introspeksi diri gue juga, kok. Ya gue berharap, sih, jangan sampe deh kalian jadi orang yang kayak udah gue tulis ini. Jangan jadi kayak gue yang gak berani jujur. Jangan jadi pengecut, ya. Gak enak, bro, sumpah. Semoga tulisan ini ngasih manfaat dan bikin kalian yang baca jadi ada bahan buat evaluasi diri buat jadi lebih baik lagi, ya hehe Amin. Mohon maaf sekali lagi kalau ada yang merasa tersindir. Kalau ada saran atau kritik, kasih komen aja. Ini negara demokrasi, gak usah takut buat ungkapin pendapat hehe.












































*Si-Pemakai-Topeng, end.

27/02/13

Aku Butuh Alasan.

Kenapa perpisahan kita harus seperti ini? Tuhanmu dan Tuhanku pun tahu kita tidak akan mungkin bersama. Lalu, kenapa Tuhanmu mempertemukanku denganmu? Pertanyaan yang sama juga aku ajukan pada Tuhanku. Apa tujuan-Nya? Kalau hanya ingin membuatku merasakan sayang yang teramat sangat padamu tapi tak memberikanku izin untuk memilikimu, apa itu bukan percuma?
Aku butuh alasan bukan kata-kata bijak yang sama sekali tidak membantuku untuk setidaknya mengalihkan perasaan sayangku ini. Kamu tahu rasanya kan?
Apa kamu pernah berpikir kalau lebih baik kita tidak dipertemukan? Apa kamu pernah berpikir kalau sebaiknya rasa ini kita berikan kepada orang yang lebih tepat? Aku tidak bilang kamu bukan orang yang tepat. Aku masih bersyukur bisa dipertemukan denganmu anehnya. Jika saja aku tidak dipertemukan denganmu, apa aku bisa merasa sebahagia ketika bersamamu? Apa aku bisa menyayangi orang lain selayaknya aku menyangimu dengan sangat jika aku tidak dipertemukan denganmu?
Aku tahu, perpisahan juga merupakan sebuah pengorbanan. Siapa tahu, dengan pengorbanan ini, Tuhanmu dan Tuhanku diam-diam berdiskusi dan pada akhirnya mengizinkan kita untuk kembali bersama. Walaupun aku tahu, itu tidak akan terjadi.
Selamat tinggal..





































*Aku Butuh Alasan, end..

26/02/13

"Gua Potong, Lo!"

Hari itu hari Minggu tanggal 9 Desember 2012. Seperti biasa, gue sama teman-teman gue lari pagi di lapangan di daerah Cijantung. Kami ber-empat (gue, Dika, Rizki, Rhandy), berencana habis lari pagi itu pergi ke daerah Grogol. Kenapa? Karena beberapa hari sebelumnya si Dika bilang lagi ada diskon gitu di sebuah toko sepatu gitu di daerah Grogol. Jadilah habis lari kami semua ditambah satu orang lagi (Hafizh) pergi ke sana.
Sebelum pergi, kami ber-lima itu kumpul dulu di rumah Rhandy. Nah di situ, ada lagi yang mau ikut. Tapi karena kelamaan nungguin dia dan waktu yang semakin siang, akhirnya dia-yang-mau-ikut-tapi-lama itu ditinggal HAHA! Nah, dari rumah Rhandy, kami semua naik angkot ke halte Tansjakarta di daerah Jalan Baru, Kampung Rambutan. Dari sana, nanti transit di halte Cawang-Uki naik bus jurusan ke Grogol.
"Pis, Pis, sini deh. Allah maha adil ye. Liat deh tuh..", kata gue seraya mengarahkan pandangan gue ke seorang cowok hitam, pendek, botak dan berdandan ala anak punk ke-alay-alay-an dan menggandeng seorang cewek yang (menurut gue) lumayan cakep. Gila, dunia sudah gila! Gue sama Hafizh cuma bisa ketawa sambil geleng-geleng gak percaya. Selama perjalanan menuju halte Grogol itu kami berdiri. Lumayan lama. Padahal di dalam bus gak penuh-penuh banget. Tapi ya gak ada sisa tempat duduk. Ajaibnya, di posisi berdiri dan sambil nyender di pintu belakang bus, si Rizki (atau yang biasa dipanggil Geboy) tidur pulas banget. Gue juga gak ngerti lagi dah sama anak itu kalau dapet posisi enak sedikit pasti langsung tidur. Tapi, lo nemuin gak dimana enaknya tidur sambil berdiri di dalam bus yang bergerak dan lo cuma nyender? Hanya Geboy dan otaknya mungkin yang mengerti definisi 'enak' dari situasi yang sudah gue sebutin tadi.
Singkat cerita, sampailah di halte Grogol. Belum, belum sampai disitu doang gue sama mereka semua itu harus ngerasain duduk enak di dalam Transjakarta. Dari halte Grogol, kami naik bus lagi yang ke Kalideres. Berdiri lagi. Iya. Penderitaan gak sampai situ doang. Dikarenakan si Dika yang lupa dan gak tahu pasti dimana letak toko sport tujuan itu, alhasil kami kelewatan satu halte. Dan kalian tahu apa? Jarak dari halte yang harusnya kami tuju itu sama halte selanjutnya jauh banget. Iya, jauh banget. Tapi kami sepakat ngambil sisi positifnya, "anggep aja jalan-jalan sekalian...", kata Dika santai. Kampret emang. Nah, sampai di halte selanjutnya itu, kami turun buat naik bus yang ke arah sebaliknya. Datenglah bus itu, kami sudah siap naik tuh. Eh, sama si mas-mas kondektur itu yang dibiarin naik cuma si Rhandy sama Dika. Gue, Geboy sama Hafizh terpaksa nunggu bus selanjutnya. Untungnya gak lama itu bus dateng. Untungnya lagi, kami semua gak kelewatan halte lagi. Dari halte itu (halte Indosiar kalau gak salah) sudah gak jauh jaraknya ke toko sport itu. Sampai di toko sport, euforia belanja barang diskonan harus dikacaukan dengan tulisan "Istirahat, 15:00-16:00.". Waktu itu jam di hp gue ngasih tahu kalau waktu itu jam 14:50. Selamat!
Rhandy gak tinggal diam. Dia ngedeketin penjaga pintu masuknya dan ngomong apa tahu gue gak denger soalnya. Tetep gak bisa masuk. Tampang  kesel plus capek mulai dipasang di muka masing-masing.
"Ke mushola aja deh yok!", ajak si Geboy.
Jadilah kami semua ke mushola, sekalian shalat ashar juga sih. Untungnya tuh mushola ada ac-nya, jadi adem. Pikir gue, "ah lumayan bisa tidur sebentar sekalian nungguin.". Bukannya tidur, habis shalat malah ngobrol-ngobrol. Awalnya si Rhandy yang ngambek ngajak pulang aja.
"Udahlah balik aja yok. Bt gue. Jauh-jauh ke sini cuma buat gak dibolehin masuk doang. Mau duit kagak sih dia?", ambekkannya Rhandy.
Tapi akhirnya dengan rayuan yang lain, dia memilih buat lebih bersabar sedikit lagi.
Singkat cerita, satu jam telah berlalu. Jam 15:57 kami semua keluar mushola dan mendapati kalau di depan toko itu sudah ramai orang yang lagi nungguin toko buka juga. Tepat 16:00 pintu tokonya dibuka. Semua orang yang sudah nunggu langsung berebut masuk. Tujuan pertama gue langsung nyari sepatu running buat bokap gue.
"Mbak, ini harganya jadi berapa? Ada nomer 39nya gak?", gue nanya ke mbak-mbaknya. Harganya jadi berapa gitu gue lupa. Pokoknya gak jauh-jauh banget deh dari harga sebelum diskonnya. Ukurannya gak ada pula. Jadilah gue bingung mau beli apa. Untungnya, si Rhandy sama Dika nemu tas gitu. Harganya Rp.50.000,-, sob. Murah geeeeeeelaaaaaa! Yaudah akhirnya gue, Rhandy sama Dika beli tas itu. Doang. Yang lain si Hafizh sama Geboy gak beli apa-apa. Selesai belanja, kami balik lagi ke mushola. Shalat maghrib. Selesai shalat kami pulang.
Di bus dari Grogol ke Kampung Rambutan, gak tahu saking asiknya maun hp atau kecapek-an plus kelaperan, gue yang (dengan santainya) gak pegangan karena lagi main hp, jatuh ke belakang. Untungnya gak banyak yang lihat. Cuma mereka ber-empat aja yang ngetawain gue. Sial. Oiya, hari itu lagi ada pertandingan Manchester City vs Manchenter United. Si Hafizh yang emang penggemar MU pengen banget buru-buru sampe rumah dan nonton pertandingan itu.
Nah, singkat cerita sampailah kami semua di terminal akhir Kampung Rambutan. Pas lagi jalan nyari angkot buat ke rumah Rhandy (karena motor semua ditaro di sana), kami berhenti di warung yang kebetulan lagi nyetel pertandingan Man.City vs MU itu. Dari awal si mas-mas penjaga warung itu udah ngasih gelagat aneh gitu. Semacam kode atau bahasa tubuh yang (AWALNYA kami kira) nyuruh beli dagangannya. Jadilah si Geboy (yang dengan percaya dirinya dan mengira kalau dia paham arti kode si mas-mas sebenarnya) beli minuman. Dan gak lama kemudian ketika lagi asyik nonton...
"Heh! Kalo ada yang ngajak ngomong itu jawab!", suara abang-abang dari sebelah warung. Awalnya kami cuek karena ngerasa kalau dia gak lagi ngomong sama kami. Eh tapi abang-abang itu ngong lagi.
"Denger gak lo, hah? Kalo ditanya kondektur, jawab!!", sambil sedikit ngebentak gitu. Kami mulai heran, perasaan selama di warung itu gak ada orang nanya apa-apa ke salah satu diantara kami.
"Tadi ada kondektur nanya, lo diemin aja. Songong pada lo, kurang ajar!", si abang-abang terus aja ngomel.
"Oh, iya iya maaf, pak.", si Dika nyautin sambil minta maaf biar cepet kelar pikirnya. Tapi gak sampe disitu aja omelan abang-abangnya.
"Lo mahasiswa kan? Pada kuliah kan lo pada? Lo boleh pada di luar seenengnya betingkah, dilindungin hukum. Disini gak ada yang ngelindungin lo pada. Jangan sembarangan lo. Sama aja lo kalo disini kayak gua. Gembel. Gak ada yang ngelindungin lo kalo di jalanan. Kurang ajar lo emang. Baj*ngan!", lah si abang-abang itu makin jadi marahnya. Kami semua gak bisa ngomong lah ya, antara takut sama bingung. Terus, si abang-abang itu berdiri sambil ngomel lagi..
"Mending lo semua pergi dari sini. An*ing lo semua! Pergi gak lo! Gua potong, lo! Pergi lo!", kayak anak penurut bermuka baik hati, kamipun pergi dari situ sambil terus diem sambil mikir juga. Akhirnya, nemu angkot yang ke tujuan rumahnya Rhandy. Di dalem angkotpun kesialan belum berakhir. Tepat dibelakang gue duduk atau di samping angkot itu, ada pemulung lewat bilang, "yah cemen banget baru diomelin gitu aja takut.." sambil nyengir.
"........", kami cuma bisa diem dan tambah kesel. Pas angkot udah mulai jalan, baru deh pada berani ngomong.
"Itu tadi kenapa ya? Perasaan gak ada yang nanya sama kita dah..", gue mulai nanya.
"Gak tau dah gua juga dah itu. Makanya tadi gue iya-in aja biar cepet. Eh malah tambah jadi ngomelnya haha.", Dika nyaut.
"Nggak..itu lagi mabok tuh gue rasa dia. Orang matanya merah gitu. Mabok itu dia.", Geboy mulai ngambil kesimpulan. Masuk akal juga kadang-kadang pemikirannya.
"Iya mabok itu juga gue rasa. Gak jelas.", tambah Rhandy.
"Eh, tapi tadi denger gak lo pemulung yang ngejek kita? Kampret emang tuh..", kata gue.
"Iya anjrit denger gue, Man. Kampret emang, enak banget ngejeknya.", si Hafizh mulai ngomong. Yang lain pada nanyain emang ada pemulung yang ngetawain kami. Terus pada ketawa ngetawain diri sendiri haha.
Sampe di rumah Rhandy, mulailah kami dapet pencerahan kalau sebenernya kode atau bahasa tubuh si mas-mas penjaga warung itu bukan kode buat nyuruh beli minum. Tapi kode buat nyuruh pergi dari situ. Ah, maafkan kami, mas, kami berjanji akan lebih peka terhadap kode-kode semacam itu di lain hari. Terima kasih juga karena sudah mencoba melindungi kami dari omelan abang-abang preman mabok itu. Oiya, buat bapak pemulung, Salam Kampret!