23/01/16

[23/366] Manusia Setengah Dewa

"Selamat berlibur, wahai Tuanku Manusia Setengah Dewa."

*

Apa yang sedang Anda lakukan? Saya anggap, Anda sedang tertawa menonton acara lawak yang tidak ada maksud edukasinya sama sekali di layar datar berwarna itu. Atau bisa jadi Anda sedang tertawa karena puas telah memberikan semua yang terbaik yang Anda bisa kepada murid-murid Anda. Atau bisa juga sedang mengutuki diri Anda sendiri. Tunggu, rasanya hal yang terakhir mustahil terjadi kepada seseorang seperti Anda, ya, kan?

Apa yang sedang Anda pikirkan? Pasti enak rasanya, ya, tidak terlalu banyak yang dipikirkan. Tentang bagaimana kelanjutan hidup murid-murid Anda nanti, tentang bagaimana nasib murid-murid Anda setelah menerima nilai yang Anda berikan, tentang tindakan apa yang mungkin akan murid-murid Anda lakukan kepada Anda atas keberhasilan Anda dalam mendidik mereka dan melabelkan mereka dengan bermacam-macam huruf, dan mungkin tentang apakah yang akan Anda lakukan nanti kepada mereka semua jika waktunya bertemu dan mengajar mereka lagi tiba. Namun, sepertinya masih ada yang Anda pikirkan, ya? Tentang apa-pun-itu-yang-atasan-Anda putuskan, kan? Jangan diambil pusing, Pak. Ingat, sekarang Anda sedang berlibur. Santai saja. Nikmati liburan kali ini.

*

7 Januari 2016. Pukul 23.58.
“Tinggal beberapa menit lagi sebelum waktu yang ditentukan untuk memasukkan huruf-huruf ke dalam kotak sialan itu! Tidak ada waktu lagi untuk mengoreksinya satu per satu. Lakukan asal saja, yang penting rampung!” kata pemimpin kelompok itu di sebuah ruangan bersekat yang mendadak keadaannya berubah kaos.

Pada akhirnya mereka berhasil menyelesaikan tugas dari atasannya untuk memasukkan huruf-huruf ke dalam kotak-kotak kecil di laci bernama Sia(lan)kad. Laci itu adalah laci yang rutin setiap peralihan dari ganjil ke genap atau sebaliknya selalu menjadi laci misteri. Laci yang mendadak menjadi laci yang rasanya ingin sekali diisi sendiri dan bukan oleh orang-orang yang tidak pantas. Atau setidaknya, mereka yang mengisi laci tersebut membolehkan kami selaku pemilik laci-laci itu memasukkan huruf-huruf bersama dan berhak tahu serta berhak mengerti bagaimana bisa setiap pemilik laci mendapatkan huruf-huruf itu.

8 Januari 2016. Pukul 08.00.
Hari ini adalah hari yang dijanjikan kepada kami, pemilik laci, bahwa laci-laci kami sudah akan terisi lengkap dengan huruf-huruf dari bermacam-macam bidang. Akan tetapi, janji tinggal lah janji. Hari ini kami terkejut mendapati isi laci kami semua tidak—atau lebih tepatnya belum—lengkap.

“Namanya juga manusia, tidak sempurna. Mungkin lupa. Atau bisa juga karena terlalu banyak yang harus dimasukkan, jadi belum sempat.”

Memang mungkin hal seperti itu terjadi, manusia hanyalah makhluk yang dianggap paling sempurna namun kenyataannya tidak seperti itu. Manusia adalah makhluk yang bisa jadi adalah makhluk yang paling tidak sempurnya. Tentunya pendapat ini bisa benar jika syarat dan ketentuannya sudah terpenuhi. Pada dasarnya manusia hanya bisa berencana dan Tuhan lah yang menentukan. Akan tetapi, saya pribadi tidak begitu setuju dengan pendapat seperti itu. Kembali, jika syarat dan ketentuannya terpenuhi. Bisa saja manusia itu yang memang pada awalnya membuat rencana tidak mau telat memasukkan huruf-huruf tersebut, namun di tengah jalan ia berpikir ulang kalau buat apa melakukan hal itu terburu-buru? Bukankah hal yang dilakukan secara terburu-buru akan—lebih banyak—tidak baik? Setidaknya, aku pernah mengalaminya tidak hanya sekali.

9 Januari 2016. Kosong.
Masih ada ruang yang kosong di laci kami. Kami mulai resah. Mulai khawatir. Mulai curiga.

10 Januari 2016. Belum ada tanda.
Belum ada tanda-tanda apakah laci kami semua akan terisi lengkap hari ini.

“Pak, bagaimana ini, kapan Bapak akan memasukkan huruf sialan itu ke dalam laci kami?!”

Mulai banyak dari kami yang protes, marah, was-was, resah, kesal, dan yang paling mengkhawatirkan adalah ada yang malah tertawa karena sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Pasrah. Menerima nasibnya sendiri. Di sisi lain, ada juga di antara kami yang tertawa lebar seakan puas karena mengetahui siapa dalang yang bertanggung jawab atas kekosongan ruang di laci kami.

11 Januari 2016.
Tiga hari sudah lewat dari jadwal yang ditentukan. Tentu mulai banyak dari kamu yang tidak lagi berharap akan terjadi saat di mana laci kami semua akan lengkap terisi penuh. “siakad memang sialan!” ujar mereka yang sudah tidak tahan lagi memendam emosi karena memakan janji manis yang ternyata hanya mentah. Sepah. Rasanya lebih buruk ketimbang memakan daging manusia yang sudah busuk berbulan-bulan yang tertimbun tanah bekas kuburan. Namun, ternyata hal yang mulai kami anggap mustahil terjadi itu akhirnya benar-benar terjadi. Aku kira mukjizat itu hanya ada di zaman nabi. Laci kami terisi penuh. Tidak ada lagi ruang kosong di dalam laci kami semua. Sudah terisi huruf-huruf di dalamnya. Lengkap. Penuh. Seketika rasa senang muncul, namun tidak bertahan lama. Sesaat setalahnya kesal, marah, dan rasa tidak puas menghampiri sebagian dari kami lagi. Apalagi kalau bukan huruf sialan yang ditunggu-tunggu selama tiga hari itu bukan lagi sebatas sialan, mungkin sudah sampai tingkat brengsek.

“Sialan! Apa artinya datang setengah jam lebih awal sampai rela tidak mandi, rela mengurangi jatah tidur, rela terburu-buru berangkat, rela selalu mencoba mengerti aksen bahasa Inggrisnya yang mungkin lebih buruk dari anak SD yang baru belajar bahasa Inggris, kalau hanya diberikan huruf itu! Aku tidak terima! Dia pikir dia siapa bisa seenaknya seperti ini!”

20 Januari 2016. Moralis.
Saya mengerti beberapa hal setelah mencernanya dengan (belum) sangat baik. Hal-hal ini tidak lain adalah sisi dibalik sifat baik yang Anda pura-purakan itu. Saya mohon maaf jika menganggap Anda adalah manusia yang penuh kepura-puraan, tetapi memang kenyataannya saya menganggap Anda seperti itu. Terlebih lagi, saya merasa Anda menganggap diri Anda sebagai manusia yang penuh dengan etika. Manusia yang penuh dengan kebenaran. Namun, pada akhirnya saya mengerti jika Anda tidaklah sebagus itu. Selain penuh kepura-puraan, Anda juga adalah sosok manusia yang penuh kemunafikan. Sesungguhnya, manusia yang munafik adalah lebih rendah dari binatang. Ah, maaf saya sudah terlalu kasar lagi. Saya mohon maaf, tetapi saya tidak bisa menahannya. Sungguh.

22 Januari. Pukul 22.00.
Akhirnya malam ini tiba juga. Malam di mana saya memberanikan diri saya sendiri untuk menuliskan hal-hal yang mungkin tidak dianggap penting bagi sebagian orang dan mungkin dianggap sebagai sesuatu yang sangat tidak sopan bagi sebagian lagi. Saya tidak peduli. Paling tidak, dengan menuliskan ini saya mencoba untuk tidak menghianati perasaan saya dan diri saya sendiri. Baik, bagaimana jika dimulai dengan saya bertanya kepada Anda, Pak? Boleh?
Saya ingin bertanya, bagaimana liburan Bapak kemarin? Menyenangkan?
Bagaimana kabar Bapak hari ini? Tidak pernah lebih baik dari hari ini kah?
Bapak tahu siapa saya? Tentu Bapak sangat hafal dengan saya, bukan begitu, Pak?

Wahai, Bapak yang berbaik hati, bolehkah saya murid Bapak yang jelata ini mengetahui apakah benar bahwa huruf yang Bapak masukkan ke dalam laci saya itu benar? Tidak ada kesalahan atau tertukar dengan milik murid Bapak yang lain? Jika memang tidak, bolehkan saya tahu sebab-musababnya Bapak sampai menaruh huruf itu di laci saya? Apakah karena saya laki-laki? Ataukah karena kesalahan yang memang saya akui saya yang salah? Mungkin bisa saja jawabannya karena kedua hal itu, bukan begitu, Pak?

Lalu, bagaimana dengan murid Bapak yang lain yang bukan laki-laki tetapi sama-sama melakukan kesalahan yang persis sama dengan saya? Huruf yang Bapak berikan kepadanya berbeda dengan yang saya dapat. Apakah karena dia perempuan? Ataukah karena kelakar Bapak soal memakai rok tempo hari? Kalau tidak, apakah saya diizinkan mengetahui sebabnya? Akan tetapi, kalau memang itu sebabnya, apa boleh buat. Saya terpaksa harus membuang jauh-jauh rasa hormat saya kepada Bapak untuk selamanya. Ya, selamanya.

*
“Selamat pagi, Pak, boleh saya minta waktunya sebentar? Saya hanya ingin bertanya apakah nilai saya benar hanya sebatas ini? Kalau memang iya, di mana letak kesalahan saya. Jika Bapak berkenan, saya ingin tahu letak kesalahan saya, sehingga saya tidak akan mengulanginya di masa yang akan datang.”

Laki-laki itu dengan santainya hanya menggelengkan kepala seraya mengulum senyum.

“Kamu tanya di mana letak salahnya? Iya? Kamu mau tahu? Dengar ini baik-baik, ini semua karena kalian hanya murid bodoh. Murid kelas rendahan. Murid tidak tahu diri dan tidak tahu diuntung. Saya adalah manusia. Bukan hanya sekadara manusia, tetapi manusia setengah dewa. Saya selalu benar. Saya tidak akan pernah salah.”

Kemudian tawanya menggema memenuhi ruangan bersekat itu.
Murid itu lalu segera tunduk di hadapan makhluk setengah dewa itu. Tidak berkutik. Pasrah. Menerima nasibnya.





Jakarta, 23 Januari 2016.

21/04/15

Panggil Aku Kartini Saja**


Waktu itu aku ingat betul hari Sabtu, yang tidak lain adalah akhir pekan. Seperti biasa, aku dan dia selalu pergi ke toko buku yang sekaligus terdapat café di sana. Ice Americano with whole milk tidak lupa ikut menemani kami berdua. Ya, minuman itu memang selalu jadi teman bahkan sudah menjadi sahabat kami dalam membuang-buang waktu di akhir pekan seperti ini.
Sore itu aku duduk di dekat jendela. Kebetulan di luar sedang hujan. Memang, hujannya tidak terlalu deras, bisa dibilang semacam gerimis mengundang. Begitu lah. Aku memang tidak pandai dalam mengumpamakan suatu hal. Jendela dekat tempat kami berdua duduk dihiasi rintikan hujan yang menambah suasana syahdu di sana. Aku jadi teringat cerita kami sekitar lima tahun lalu di tempat yang sama dan hampir dengan situasi yang sama.

***

“Ga, lo mau pesen apaan?”, tanyanya sambil menyodorkan daftar menu ke hadapan gue.
Gue yang sedang terlarut di dalam cerita sebuah buku Pramoedya Ananta Toer tidak sadar kalau dia sedang mengajak bicara.
Oy, Ga!!”, sambil menepuk pundak gue.
“Eh, iya iya. Apaan, sih? Bikin kaget aja. Ada apa?”
“Ih, kan, dari tadi gue dicuekin.. Lo mau pesen apa, Agaaaaaa??”, tanyanya ulang sembari memajukan sedikit posisi tubuhnya.
“Oh, sorry, Kar, lagi asyik baca tadi. Hehe. Gue pesen kayak biasa aja nasi putih sama kuah mie instan satu, ya. Elo pesen kayak biasa juga, kan, internet*?”, tanya gue balik.
“Huh, dasar. Iya pesen kayak biasanya, kok. Elo mau nebeng telurnnya lagi? Wooo…!”
“Hehehe…”, gue cuma cengengesan.
Gak lama pesenan kami dateng. Telur rebusnya gua ambil buat teman nasi putih dan kuah mie instan gue. Gue gak langsung makan, gue nerusin baca lagi. Gue sempet perhatiin dia sekilas, kok tumben dia gak baca buku? Dia lagi kenapa, ya?
Gue urungkan niat baca buku gue karena kayaknya dia lagi gak kayak biasanya. Terpaksa mood baca gue yang lagi bagus gue relakan pergi buat ngobrol sama dia.
“Elo lagi kenapa, deh?”, tanya gue sambil mengangkat wajahnya.
Dia cuma senyum sambil ngejauhin tangan gue dan nunduk lagi. Gue tambah heran, dia lagi kenapa sebenarnya sekarang? Gak kayak biasanya dia berani buat gak cerita apa-apa ke gue. Akhirnya gue makan, karena terlanjur juga mood baca gue udah pergi. Ada lagi yang aneh selain sahabat cewek gue ini. Iya, rasa kuah mie instan gue asin banget. Kampret! Kokinya lagi pengen kawin apa gimana, sih? Oke, mood makan gue juga ikutan ancur gara-gara kuah mie yang rasanya kayak keringet Firaun yang gak mandi dari dia lahir sampe akhirnya ditenggelamin Musa di laut.
Gak lama, dia juga kayak gak nafsu makan, cuma mainin garpunya doang ke ujung mangkoknya.
“Ga..”
“Iya, Kar, ada apa? Ada yang mau diceritain?”
“…”, dia Cuma geleng-geleng kepala lalu diam lagi. Gue tambah bingung.
“Ga, lo tau Dewi ‘Dee’ Lestari gak, sih?”, akhirnya dia ngomong. Gue lega.
“Hm.. Tau, kok. Kenapa emang? Elo lagi suka baca buku-bukunya?”, tanya gue sok tau.
Dia cuma jawab pake gelengan kepala. “Terus, kenapa?”, tanya gue lagi.
“Elo tau bukunya yang judulnya Filosofi Kopi?”
“Iya, tau. Ada apa, sih, emangnya?”, gue tambah penasaran.
“Elo tau salah satu quote-nya dia yang ada di buku itu? Yang ada di cerpen Spasi.”
“…”, gue diem, mikir. “Gue gak tau, Kar. Emang apa quote-nya?”
Dia menghela napasnya, lalu menyodorkan hp-nya ke gue. Ada quote itu di situ.
Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?
Itu dia quote-nya, dan gue semakin bingung sebenarnya ke mana arah omongannya dia. Gue penasaran.
“Oh, terus?”, tanya gue polos. Atau bego. Entah.
Bener aja, dia langsung cemberut, tambah jelek mukanya habis gue nanya gitu.
“Eh, bercanda, bercanda, Kar.. Jangan ngambek, dong. Kenapa, sih?”
“Elo udah baca? Ngerti?”, gue tambah bingung, ini dia lagi ngetes gue apa gimana, sih?
“Ng.. Ngerti. Eh, enggak, deng. Tapi, ngerti, tapi, enggak. Tau, ah. Kenapa, sih?”, gue makin penasaran.
“Dee bilang kalo huruf seindah apapun itu diukir gak akan punya makna, dan gak akan bisa dimengerti kalo gak ada spasi.”, dia diam, gak langsung melanjutkan ceritanya. Gue juga cuma diam nunggu dia sampe ngomong lagi.
It’s about me and Andre, Ga..”
Oke, arah pembicarannya mulai jelas. Current mood gue sekarang cuma buat nyimak cerita dia, gak ada yang lain.
“Elo tau, gue sama Andre udah lama LDR-an, kan?”
Gue ngangguk doang, tapi masih gak ngerti ke mana maksud arah pembicaraannya.
“Elo tau kenapa tadi elo gue suruh baca quote-nya Dee?”, dia mulai serius.
Dari tadi kaleee, Ga, elonya aja pongo!
“Hm.. Kenapa emang?”
Dia menghela napas dulu sebelum melanjutkan ceritanya. Emang gue se-ngeselin itu, ya?
LDR means Long Distance Relationship, dan soal hubungannya dengan quote tadi itu adalah.. Gue sampe sekarang gak bisa ngerti ke mana arah hubungan kami. Gue makin gak ngerti sama maunya dia gimana, maunya apa. Dee bilang seindah apapun huruf diukir gak akan bisa mempunyai makna jika tak ada spasi, kan? Nah, di hubungan gue sama Andre kurang spasi gimana lagi, sih, Ga? Gue di Jakarta, dia di U.S, masih kurang jauh?”
Gue cengo. Bingung harus ngomong apa.
“Jadi, intinya lo mau udahan sama Andre?”, sumpah gue nyesel banget abis nanya dia begitu.
“…”, dia Cuma diem. Nunduk.
“Kar, elo kenapa? Elo mau udahan sama dia?”, gue nanya lagi, mastiin.
“Ga, gue gak tau harus gimana lagi. Lima tahun gue sabar ngadepin sikap dia. Lima tahun gue sabar nunggu dia. Lima tahun gue nahan capeknya makan ati gara-gara dia. Terus tadi pagi dia sms gue bilang kalo dia gak akan balik lagi ke Indonesia. Ke Jakarta. Elo tanpa gua harus tanya maksudnya udah paham, kan, Ga?”
Gue sekarang bener-bener kaget, bingung, gak tau harus ngomong apa.
“Serius dia sms kayak gitu ke elo?”
Dia ngangguk.
Seketika itu juga gue cabut dari tempat duduk gue dan langsung jalan ke luar.
“Ga, elo mau ke mana? Ga! Ga!”, gue enggak ngegubris panggilannya.
Dia coba buat nahan gue.
“Gue gak bisa diem aja, Kar. Gue gak terima sahabat baik gue diperlakukan seenaknya kayak gini sama orang yang elo sayang. Elo sayang, kan, sama dia?”
“…”, dia diem.
“Kar..”
“Kar.”
“Kar!”
“Kar!!!”
“IYA, IYA, GUE SAYANG SAMA ANDRE, SAYANG BANGET!”, lalu dia nangis.
Gue bingung, gue ngerasa bersalah. Gue peluk dia. Dia masih nangis.
“Kar, tapi gue gak bisa ngebiarin dia dengan enaknya gini mainin lo. Gue harus ke sana nemuin dia dan ngasih tau kalo dia udah jadi cowok paling bego, paling kurang ajar se-dunia, karena udah berani mainin lo kayak gini.”
Gue lepas pelukan gue. Gue jalan ke luar. Tapi…

***

Di Sabtu sore ini, tepat lima tahun dia pergi meninggalkanku. Selamanya. Sekarang hanya foto dirinya saja yang menemaniku duduk setia dan masih dengan kebiasaan membuang-buang waktu kami. Tidak ada lagi teman, sahabat terbaik seperti dia yang selalu mau menemaniku dan ngerecokin mie instanku setiap ke café ini. Aku juga menemukan catatan di dalam buku yang dia baca waktu itu. Di dalam buku Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer yang dia baca waktu itu, aku menemukan catatan yang aku kenali betul kalau itu memang tulisannya.

Kartiniku.. mungkin sampai sekarang aku belum bisa memilikimu, belum bisa melindungimu, belum bisa membantumu mencapai kemerdekaan yang selama ini kamu perjuangkan darinya. Akan tetapi, Kartiniku, asal kau tahu, sampai sekarang aku selalu ada di sisimu, selalu ada di setiap waktu kamu ingin berkeluh kesah soal susahnya merebut kemerdekaanmu darinya, aku selalu ada di saat penting atau tidak penting seperti saat ini untukmu. Kau bukan hanya sekadar sosok yang sama hebatnya dengan Ibu Kartini yang selama ini selalu kita nyanyikan namanya di tanngal 21 April. Kau adalah Kartiniku, Kartini sejati yang selalu memenuhi ruang hati dan pikiranku. Kau adalah wanita terhebat kedua setelah Ibuku tentunya. Tidak salah jika Kartini yang tersemat di namamu itu memberikan hati yang kuat dan tegar layaknhya Kartini dahulu, bahkan mungkin aku bisa bilang kau jauh lebih kuat dan tegar dari pendahulumu. Aku sudah lama ingin mengatakan ini padamu, tetapi apalah dayaku. Aku tidak ingin menyakiti hati sahabat, sosok wanita, Kartini terhebat yang selama ini aku pernah kenal. Aku hanya bisa menuliskan ini padamu, tetapi aku juga tidak tahu apakah aku mempunyai cukup nyali untuk menyerahkannya padamu. Aku sangat, sangat mencintaimu, Kartini Mahanani. Aku sungguh sungguh mencintaimu dari awal pertemuan kita. Semoga aku selalu bisa melihatmu bahagia walaupun itu bukan karenaku.

Salam,

Jelaga Putra Pradana.”




Starbucks, 21 April 2015.





ps:
*indomie telur kornet
**judul tulisan ini meminjam judul buku Pramoedya Ananta Toer, yaitu Panggil Aku Kartini Saja

Mie Instan, Jendela, dan Akhir Pekan

Selamat malam.


Sudah lama semenjak postingan terakhir di blog ini dimuat.
Malam ini aku sedang produktif, ya walaupun keproduktifan ini berangkat dari ketidaksengajaan. Tetapi, setidaknya dari ketidaksengajaan "gimana kalo kita sekarang nulis aja. Buat cerita dari tiga kata kunci ini, mie instan, jendela, dan akhir pekan. Gimana?" aku bisa mengungkapkan apa yang selama ini aku malu untuk mengungkapkannya.


Akhirnya, jadilah tulisan yang akan aku post setelah postingan ini.
Setidaknya, aku ingin mengungkapkan rasa kagumku sekaligus sayangku terhadap sosok Kartiniku yang pada hari ini berulang tahun.
Dia adalah Ibuku.

Selamat ulang tahun, Ibu.
Selamat harimu.